Membuat Contoh Artikel Yang Baik Dan Benar,Kecerdasan Emosional
Kemampuan membuat artikel yang baik dan benar memang diperlukan oleh seorang blogger karena hal ini akan menentukan kualitas blog yang dikelolanya,nah dengan demikian kali ini Mas-tahu akan membahas contoh artikel yang baik dan benar,contoh cara membuat artikel,contoh artikel yang baik dan benar pdf,contoh artikel yang benar dan menarik,serta contoh penulisan artikel ilmiah
Berikut ini ulasan Contoh
Artikel Yang Baik Dan Benar,Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia
pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering
khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidak berhasilan dalam meraih prestasi
belajar atau bahkan takut tinggal kelas.
Banyak usaha yang
dilakukan oleh para siswa untuk meraih prestasi belajar agar menjadi yang
terbaik seperti membentuk kelompok belajar atau mengikuti bimbingan belajar.
Usaha semacam itu jelas positif, namun masih ada faktor lain yang tidak kalah
pentingnya dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan ataupun kecakapan
intelektual, faktor tersebut adalah kecerdasan emosional. Karena kecerdasan
intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi
gejolak, kesempatan ataupun kesulitan-kesulitan dan kehidupan. Dengan
kecerdasan emosional, individu mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka
sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan-perasaan orang
lain dengan efektif. Individu dengan keterampilan emosional yang berkembang
baik berarti kemungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki
motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali
atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak
kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki
pikiran yang jernih.
Sebuah laporan dari
National Center for Clinical Infant Programs (1992) menyatakan bahwa
keberhasilan di sekolah bukan diramalkan oleh kumpulan fakta seorang siswa atau
kemampuan dirinya untuk membaca, melainkan oleh ukuran-ukuran emosional dan
sosial: yakni pada diri sendiri dan mempunyai minat; tahu pola perilaku yang
diharapkan orang lain dan bagaimana mengendalikan dorongan hati untuk berbuat
nakal; mampu menunggu, mengikuti petunjuk dan mengacu pada guru untuk mencari
bantuan; serta mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan saat bergaul dengan siswa
lain. Hampir semua siswa yang prestasi sekolahnya buruk, menurut laporan
tersebut, tidak memiliki satu atau lebih unsur-unsur kecerdasan emosional ini
(tanpa memperdulikan apakah mereka juga mempunyai kesulitan-kesulitan kognitif
seperti kertidakmampuan belajar). (Goleman, 2002: 273)
Penelitian Walter Mischel (1960) mengenai “marsmallow
challenge” di Universitas Stanford menunjukkan anak yang ketika berumur empat
tahun mampu menunda dorongan hatinya, setelah lulus sekolah menengah atas,
secara akademis lebih kompeten, lebih mampu menyusun gagasan secara nalar, seta
memiliki gairah belajar yang lebih tinggi. Mereka memiliki skor yang secara
signifikan lebih tinggi pada tes SAT dibanding dengan anak yang tidak mampu
menunda dorongan hatinya (Goleman, 2002: 81).
Individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang
lebih baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan
cepat, jarang tertular penyakit, lebih terampil dalam memusatkan perhatian,
lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain, lebih cakap dalam memahami
orang lain dan untuk kerja akademis di sekolah lebih baik (Gottman, 1998: xvii)
Keterampilan dasar
emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba, tetapi membutuhkan proses
dalam mempelajarinya dan lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional
tersebut besar pengaruhnya. Hal positif akan diperoleh bila anak diajarkan keterampilan
dasar kecerdasan emosional, secara emosional akan lebih cerdas, penuh
pengertian, mudah menerima perasaan-perasaan dan lebih banyak pengalaman dalam
memecahkan permasalahannya sendiri, sehingga pada saat remaja akan lebih banyak
sukses di sekolah dan dalam berhubungan dengan rekan-rekan sebaya serta akan
terlindung dari resiko-resiko seperti obat-obat terlarang, kenakalan, kekerasan
serta seks yang tidak aman (Gottman, 1998: 250)
Siswa bukanlah benda
mati yang hanya bergerak bila ada daya dari luar yang mendorongnya, melainkan
mahluk yang mempunyai daya-daya dalam dirinya untuk bergerak yaitu motivasi.
Dengan adanya motivasi, manusia kemudian terdorong unutk melakukan suatu
tindakan atau perilaku, yang termasuk di dalamnya adalah keinginan untuk
berprestasi tinggi di dalam belajar. (Irwanto, 1997: 184)
Arden N. Fardesen
mengatakan bahwa hal yang mendorong seorang untuk belajar adalah:
a. Adanya sifat ingin tahu dan menyelidiki dunia yang amant
luas.
b. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan
keinginan untuk selalu maju.
c. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang
tua, guru, dan teman.
d. Adanya uasaha untuk memperbaiki kegagalaan yang lalu
dengan usaha yang baru, baik dengan koprasi maupun dengan kompetisi.
e. Adanya usaha untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai
pelajaran.
f. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai konsekwensi dari
belajar. (Suryabrata, 1998: 253)
Keenam poin tersebut adalah kemampuan yang harus dimiliki
siswa. Bila seorang siswa mampu mengaturnya dengan baik, hal tersebut
menunjukan kecerdasan emosional yang baik dan akan memberikan sumbangan yang
besar terhadap prestasi baiknya dalam belajar. Tapi kalau yang terjadi
sebaliknya, maka siswa akan terhambat dan menhalami kesulitan dalam belajar.
Melihat uraian di
atas dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu
faktor yang penting yang seharusnya dimiliki oleh siswa yang memiliki kebutuhan
untuk meraih prestasi belajar yang baik di sekolah. Siswa dengan ketrampilan
emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan berhasil dalam
pelajaran, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka.
Sebaliknya siswa yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosionalnya
akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk
berkonsentrasi pada pelajaran ataupun untuk memiliki pikiran yang jernih,
sehingga bagaimana siswa diharapkan berprestasi kalau mereka masih kesulitan
mengatur emosi mereka.
BACA JUGA :
- Pengenalan blog wallpaper
- Cara Buat Blog Wallpaper Dengan Blogspot
- Inilah Perbandingan Blog Wallpaper dan Blog Artikel

Tidak ada komentar:
Posting Komentar